Ramadan: Momentum Perubahan

Minggu, 16 Mar 2025
13:14
Diperbarui 3 hari yang lalu

Segala puji bagi Allah yang telah menyampaikan kita kepada bulan yang selalu ditunggu-tunggu dan dirindukan oleh setiap insan yang beriman, bulan penuh berkah, bulan penuh ampunan. Ya, bulan tersebut adalah bulan Ramadan. Rasulullah memberikan kabar gembira kepada umatnya akan kedatangan tamu yang mulia ini dalam sabdanya,

قدْ جَاءَكُمْ رَمَضَانُ، شَهْرٌ مُبَارَكٌ، افْتَرَضَ اللَّهُ عَلَيْكُمْ صيَامَهُ، تُفْتَحُ فِيهِ أَبْوَابُ الْجَنَّةِ، وَتُغْلَقُ فِيهِ أَبْوَابُ الجَحِيمِ، وَتُغَلُّ فِيهِ الشَّيَاطِينُ، فِيهِ لَيْلَةٌ خَيْرٌ مِنْ أَلْفِ شَهْرٍ، مَنْ حُرِمَ خَيْرَهَا فَقَدْ حُرِمَ

"Telah datang kepada kalian Ramadan, bulan yang diberkahi. Allah mewajibkan atas kalian berpuasa padanya. Pintu-pintu surga dibuka padanya. Pintu-pintu Jahim (neraka) ditutup. Setan-setan dibelenggu. Didalamnya terdapat sebuah malam yang lebih baik dibandingkan 1000 bulan. Siapa yang dihalangi dari kebaikannya, maka sungguh ia terhalangi." (HR. Ahmad)

Hadis ini menunjukkan bahwa Allah ﷻ telah menyiapkan serta mengondisikan bulan ini dengan sedemikian rupa sehingga para hamba-Nya dapat melaksanakan berbagai macam ibadah di dalamnya dengan maksimal, begitu pula meninggalkan berbagai macam perbuatan dosa secara totalitas.

Namun Ramadan bukanlah sekedar event tahunan dimana kita memaksimalkan peribadatan serta ketakwaan kita kepada Allah hanya pada bulan itu saja, tapi hendaknya Ramadan menjadi momentum perubahan hidup seorang hamba secara keseluruhan, terutama dalam hal meninggalkan kebiasaan kebiasaan buruk dan menyiapkan bekal untuk akhirat kelak. Berikut adalah beberapa kiat supaya Ramadan benar-benar menjadi momentum perubahan dalam hidup kita. 

 

1. Puasa Syahwat

Puasa bukan hanya soal menahan lapar dan dahaga, tetapi juga menahan hawa nafsu dan syahwat. Allah ﷻ berfirman dalam sebuah hadis qudsi, 

يَدَعُ شَهْوَتَهُ وَطَعَامَهُ مِن أَجْلِي

"Ia meninggalkan syahwatnya dan makanannya karena Aku." (HR. Al-Bukhari)

Rasulullah ﷺ bersabda,  

الصِّيَامُ جُنَّةٌ فَلا يَرْفُث وَلَا يَجْهَل

"Puasa adalah perisai, maka janganlah berkata keji dan janganlah berbuat bodoh." (HR. Al-Bukhari)

Imam Ibnul Qayyim rahimahullah berkata, 

الصَّائِمُ هُوَ الَّذِي صَامَتْ جَوَارِحُهُ عَنِ الْآثَامِ، وَلِسَانُهُ عَنِ الْكَذِبِ وَالْفُحْشِ وَقَوْلِ الزُّورِ، وَبَطْنُهُ عَنِ الطَّعَامِ وَالشَّرَابِ، وَفَرْجُهُ عَنِ الرَّفَثِ

"Seorang yang berpuasa (yang sebenarnya) adalah orang yang anggota tubuhnya menahan diri dari perbuatan dosa, lisannya menahan diri dari kebohongan, kata-kata kotor, dan perkataan dusta, perutnya menahan diri dari makanan dan minuman, serta kemaluannya menahan diri dari perbuatan  keji." (Al-Wabilus Shayyib) 

Oleh karena itu, hakikat dari puasa yang sebenarnya adalah meninggalkan hawa nafsu, maka Ramadan adalah momen yang tepat untuk menahan diri dari kebiasaan buruk seperti melihat hal haram, berkata kotor,  dan melakukan hal yang sia-sia. 

 

2. Membaca Al-Qur'an dan Merenungi Maknanya

Al-Quran merupakan panduan hidup yang menunjuki manusia mana jalan haq yang harus dilalui dan mana jalan batil yang harus dihindari.

Selain itu, Al-Quran juga merupakan obat dan asupan rohani bagi hati kita.

Allah berfirman,

يَأَيُّهَا النَّاسُ قَدْ جَاءَتْكُم مَّوْعِظَةٌ مِّن رَّبِّكُمْ وَشِفَاءٌ لِّمَا فِي الصُّدُورِ وَهُدًى وَرَحْمَةٌ لِّلْمُؤْمِنِينَ

"Wahai manusia! Sungguh, telah datang kepadamu pelajaran (Al-Qur'an) dari Tuhanmu, penyembuh bagi penyakit yang ada dalam dada, dan petunjuk serta rahmat bagi orang yang beriman." (QS. Yunus: 57)

Seseorang yang memperbanyak membaca Al-Quran serta merenungi maknanya, hatinya akan menjadi baik karena dipenuhi oleh hidayah dan ketenangan. Dan ketika hati sudah baik, maka anggota tubuh lainnya seperti mata, telinga, lisan, dan tangan pun turut menjadi baik sehingga seluruh anggota tubuhnya senantiasa terjaga dari perbuatan dosa.

 

3. Memperbanyak Ibadah dan Berusaha Merasakan Kelezatan Beribadah

Ramadan menawarkan berbagai macam ibadah dengan suasana yang sangat mendukung, mulai dari puasa, membaca Al-Quran, shalat tarawih, hingga itikaf. Ini merupakan kesempatan emas bagi kita untuk bisa melatih diri dalam memperbanyak ibadah dan membiasakan diri dalam ketaatan.

Tidak hanya memperbanyak ibadah, kita juga mesti berusaha menikmati serta menghayati proses ibadah itu sendiri, sehingga tiap ibadah yang kita laksanakan dapat memberikan dampak yang luar biasa pada jiwa kita, sebagaimana perkataan Ibnul Qayyim rahimahullah, 

قَدْ جَعَلَ اللَّهُ سُبْحَانَهُ لِلْحَسَنَاتِ وَالطَّاعَاتِ آثَارًا مَحْبُوبَةً لَذِيذَةً طَيِّبَةً، لَذَّتُهَا فَوْقَ لَذَّةِ الْمَعْصِيَةِ بِأَضْعَافٍ مُضَاعَفَةٍ

"Sungguh, Allah Subhanahu wa Ta'ala telah menjadikan pada kebaikan dan ketaatan dampak-dampak yang dicintai, lezat, dan baik. Kenikmatannya jauh melebihi kenikmatan maksiat berkali-kali lipat." (Madarijus-Salikin). 

Jika kita sudah terbiasa memperbanyak ibadah di bulan Ramadan, maka setelah Ramadan niscaya kita dapat melaksanakan ketaatan dengan lebih mudah. Dan ketika kita sudah merasakan betapa nikmatnya beribadah, maka kita tidak akan lagi mencari kenikmatan melalui kemaksiatan.

 

4. Menyadari tujuan hidup yang sejati

Kita harus sadar bahwa kita diciptakan oleh Allah di dunia ini untuk beribadah kepada-Nya, dan bahwa tujuan hidup kita yang sejati adalah meraih surga-Nya yang abadi.

Allah berfirman,

كُلُّ نَفْسٍ ذَائِقَةُ الْمَوْتِ وَإِنَّمَا تُوَفَّوْنَ أُجُورَكُمْ يَوْمَ الْقِيَامَةِ فَمَن زُحْزِحَ عَنِ النَّارِ وَأُدْخِلَ الْجَنَّةَ فَقَدْ فَازَ وَمَا الْحَيَاةُ الدُّنْيَا إِلَّا مَتَاعُ الْغُرُورِ

"Setiap yang bernyawa akan merasakan mati. Dan hanya pada hari kiamat sajalah diberikan dengan sempurna balasanmu. Barangsiapa dijauhkan dari neraka dan dimasukkan ke dalam surga, maka sungguh ia telah sukses. Dan kehidupan dunia tidak lain hanyalah kesenangan yang memperdaya." (QS. Ali Imran: 185)

Dengan menyadari tujuan hidup yang sejati, kita juga akan sadar bahwa menjalankan ibadah dan meninggalkan maksiat bukan hanya berlaku di bulan Ramadan, melainkan ia adalah kewajiban yang senantiasa melekat selama kita hidup di dunia ini, sejalan dengan firman Allah,

وَاعْبُدُ رَبَّكَ حَتَّى يَأْتِيَكَ الْيَقِينُ

"Dan sembahlah Tuhanmu sampai Al-Yakin (ajal) datang kepadamu." (QS. Al-Hijr: 99)

 

5. Doa

Ramadan merupakan saat yang tepat untuk memperbanyak doa, banyak waktu mustajab di bulan Ramadan yang bisa kita manfaatkan seperti saat berpuasa, menjelang berbuka, saat sahur, setiap sujud dalam shalat, dan saat lailatul qadr.

Diantara doa yang dapat dipanjatkan supaya kita bisa tetap istiqamah setelah Ramadan berakhir adalah sebagai berikut,

يَا مُقَلِّبَ الْقُلُوبِ ثَبِّتْ قَلْبِي عَلَى دِينِكَ

"Wahai Yang membolak-balikkan hati, teguhkanlah hatiku di atas agama-Mu" (HR. At-Tirmidzi)

اللَّهُمَّ حَبِّبْ إِلَيْنَا الْإِيمَانَ وَزَيَّنُهُ فِي قُلُوبِنَا وَكَرَّهُ إِلَيْنَا الْكُفْرَ وَالْفُسُوقَ وَالْعِصْيَانَ وَاجْعَلْنَا مِنَ الرَّاشِدِينَ

"Ya Allah, jadikanlah kami mencintai iman dan hiasilah iman itu dalam hati kami. Dan jadikanlah kami membenci kekufuran, kefasikan, dan kemaksiatan. Dan jadikanlah kami termasuk orang-orang yang mendapat petunjuk." (HR. Ahmad)

اللَّهُمَّ تَوَفَّنَا مُسْلِمِينَ وَأَحْيِنَا مُسْلِمِينَ وَأَلْحِقْنَا بِالصَّالِحِينَ

"Ya Allah, wafatkanlah kami dalam keadaan muslim, hidupkanlah kami dalam keadaan muslim, dan gabungkanlah kami dengan orang-orang yang shalih." (HR. Ahmad)

 

Penutup

Suatu saat, Jibril 'alaihissalam mendatangi Rasulullah seraya mendoakan celaka kepada tiga golongan hamba, salah satunya adalah sebagaimana yang beliau (Jibril) katakan,

شَقِيَ عَبْدٌ أَدْرَكَ رَمَضَانَ فَانْسَلَخَ مِنْهُ وَلَمْ يُغْفَرْ لَهُ

"Celakalah seorang hamba yang mendapati Ramadan, kemudian bulan itu berlalu sedangkan dia belum diampuni (dosa-dosanya)"

Kemudian Rasulullah mengaminkan doa Jibril tersebut. (HR. Al-Bukhari)

Dari hadis ini kita bisa ambil pelajaran bahwa Ramadan adalah bulan penuh ampunan dan ia merupakan momentum yang besar bagi seorang hamba untuk berubah serta membenahi hidupnya.

Oleh karena itu, pantaslah Jibril 'alaihissalam mengatakan bahwa orang yang tidak diampuni pada bulan Ramadan adalah seorang hamba yang celaka, padahal kesempatan untuk diampuni pada bulan ini begitu besar, ini menunjukkan bahwa orang seperti ini bersikap lalai dan menyia-nyiakan kesempatan yang telah Allah berikan saat bulan Ramadan.

Ini merupakan peringatan untuk kita semua, jangan sampai kita termasuk golongan hamba yang celaka karena tidak memanfaatkan kesempatan di bulan Ramadan ini dengan sebaik mungkin.

"Jangan sekali-kali anda menyamakan Ramadan dengan bulan-bulan lainnya! Sekarang waktunya semangat beribadah, sekarang momennya meninggalkan maksiat dan kebiasaan buruk, belum tentu anda mendapati Ramadan yang akan datang"

"Jika sekelas hari-hari di bulan Ramadan tidak bisa membuatmu berubah, lantas apa lagi yang bisa membuatmu berubah?!"

 

Semoga Allah memberi taufik kepada kita semua supaya kita bisa memaksimalkan penghambaan diri kita kepada-Nya selama bulan Ramadan, demikian pula supaya kita bisa menjadikan Ramadan sebagai momentum perubahan sehingga tiap saat dan tiap langkah dalam hidup kita senantiasa dalam keridhoan-Nya sampai ajal menjemput. 

 

✍️ Ditulis oleh Dzaki Rasendriya Aslam

 

Jakarta Selatan, Ahad 16 Ramadhan 1446 H (16 Maret 2025) 13:39 WIB

 

 

Tentang Penulis

Ragilas Maragulita Rizki

Ragilas Maragulita Rizki

@ragilas

Alumni Pesantren Islam Al Irsyad Mahasiswa LIPIA Jakarta

Member sejak Jan 2025 13 artikel
Lihat artikel lainnya dari penulis ini

Jelajahi Kategori

Artikel Lainnya